Keutamaan Memperbanyak Shalawat
Dalam
menafsirkan Surat Al Ahzab ayat 56, Asy Syaikh Ismail Haqqi Al Istanbuly
menukil dalam kitab Tafsirnya Ruhul Bayan Juz 7 halaman 225 sebuah kisah:
وحكى- عن سفيان الثوري رحمه
الله انه قال بينا انا أطوف بالبيت إذ رأيت رجلا لا يرفع قدما الا وهو يصلى على
النبي عليه السلام فقلت يا هذا انك تركت التسبيح والتهليل وأقبلت بالصلاة على
النبي عليه السلام فهل عندك فى هذا شىء فقال من أنت عافاك الله فقلت انا سفيان الثوري
فقال لولا انك غريب فى اهل زمانك لما أخبرتك عن حالى ولا اطلعتك على سرى ثم قال
خرجت انا وابى حاجين الى بيت الله الحرام حتى إذا كنا فى بعض المنازل مرض ابى ومات
واسود وجهه وازرقت عيناه وانتفخ بطنه فبكيت وقلت انا لله وانا اليه راجعون مات ابى
فى ارض غربة هذه الموتة فجذبت الإزار على وجهه فغلبتنى عيناى فنمت فاذا انا برجل
لم ار أجمل منه وجها ولا أنظف ثوبا ولا أطيب ريحا فدنا من ابى فكشف الإزار عن وجهه
ومسح على وجهه فصار أشد بياضا من اللبن ثم مسح على بطنه فعاد كما كان ثم أراد ان
ينصرف فقمت اليه فامسكت بردائه وقلت يا سيدى بالذي أرسلك الى ابى رحمة فى ارض غربة
من أنت فقال أو ما تعرفنى انا محمد رسول الله كان أبوك هذا كثير المعاصي غير انه
كان يكثر الصلاة على فلما نزل به ما نزل استغاث بي فاغثته وانا غياث لمن يكثر
الصلاة على فى دار الدنيا فانتبهت فاذا وجه ابى قد ابيض وانتفاخ بطنه قد زال.
Dikisahkan
dari Sufyan Ats Tsaury rahimahullah sesungguhnya ia berkata:
“Suatu hari aku thawaf di Ka'bah tetiba melihat seorang lelaki yang tidak mengangkat kedua kakinya (untuk melangkah) melainkan ia membaca shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Maka aku berkata: "Hai kau, sesungguhnya engkau
meninggalkan tasbih, tahlil dan hanya membaca shalawat kepada Nabi Muhammad
saja, ada apa gerangan?"
Ia
bertanya: “Siapa engkau? Semoga Allah mengampunimu.”
Maka
aku menjawab: "Aku Sufyan Ats Tsaury"
Lalu ia berkata: "Jika saja bukan sebab engkau orang
terkemuka di zamanmu maka tidaklah aku kabarkan tindakanku juga rahasiaku
kepadamu."
ia melanjutkan: "Aku pergi untuk haji bersama ayahku ke
Baitullah. Hingga ketika sampai di suatu tempat ia sakit dan meninggal,
wajahnya menghitam, matanya membiru dan perutnya membuncit."
Aku menangis dan berkata: "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi
rajiuun, telah wafat ayahku di bumi asing, dengan keadaan seperti ini. lalu
aku menutup wajahnya dengan selimut, hingga mataku terserang kantuk kemudian
tertidur."
Ketika itu tiba-tiba muncul seorang lelaki yang tidak pernah aku
lihat lebih tampan darinya, lebih bagus baju serta lebih harum aroma darinya.
Ia mendekati ayahku, membuka selendang dari wajah ayahku lalu mengusapnya
sehingga menjadi lebih putih dari susu . Ia mengusap perut ayahku hingga
kembali seperti semula.
Saat ia berkehendak untuk pergi aku berdiri mencegah dengan
memegang selendangnya, sembari bertanya : "Wahai tuanku, demi Dzat yang
telah mengutusmu sebagai rahmat untuk ayahku di bumi asing, siapakah
anda?"
Ia berkata: "Apa kau tidak mengenalku? Aku adalah
Muhammad Rasulullah. Ayahmu seorang pelaku maksiat namun selalu memperbanyak
shalawat untukku. Saat terjadi bencana kepadanya ia meminta pertolonganku, dan
aku adalah pertolongan bagi siapa yang memperbanyak shalawat di dunia."
Lalu aku terbangun, ketika itu wajah ayahku telah berubah putih serta buncit diperutnya pun menghilang.”
Dari kisah di atas bisa kita ambil hikmah bahwa dengan membaca
shalawat, Rasulullah memberikan syafa'atnya saat seseorang mengalami kesusahan
dan bencana baik di dunia maupun akhirat.
Semoga kita termasuk umat yang senantiasa konsisten dalam ittiba'
sunnah serta melazimkan shalawat sebagai bentuk penghormatan pada Nabi Muhammad
pemilik derajat luhur fiil malail a’laa.
Semoga
bermanfaat
Wallahu
A’lam