AL-IMAM AL-A'DZAM ABU HANIFAH
Beliau adalah Al-Imam Al-A'dzam Al-Nu'man bin Tsabit bin Zutha bin Marzuban al-Taimi al-Kufi, lahir di Kufah tahun 80 H dan wafat di Baghdad tahun 150 H. Cucu beliau Ismail bin Hammadah berkata: Kami adalah keturunan bangsa Persia yang merdeka. Demi Allah, kami tidak pernah mengalami perbudakan sama sekali. Kakekku, Tsabit, saat masih kecil pernah mendatangi Ali bin Abi Thalib lalu beliau pun mendoakan agar ia diberkahi dan keturunannya."
Beliau mengkaji fikih dari Hammad
bin Abi Sulaiman, dari Ibrahim al-Nakha'i dari 'Alqamah bin Qais dari Ibnu
Mas'ud. Abu Hanifah adalah penjual kain sutra di Kufah, terkenal di
kalangan masyarakat karena kejujuran dalam berdagang. Memberi tahu pembeli harga
asli dan tidak menyukai tawar-menawar. Ketika mendalami fikih di awal abad
kedua Hijriah, beliau mencapai kemajuan pesat.
Beliau sering mengajukan suatu masalah
pada para penuntut ilmu yang hadir. Lalu mereka akan mendiskusikan hingga
tercapai suatu kesimpulan jawaban atau setiap orang akan mempertahankan
pendapatnya masing-masing. Dengan cara ini permasalahan fikih beliau tidak
ditetapkan kecuali setelah adanya munaqasyah dan tarik ulur pendapat di
dalamnya.
Al-Imam Syamsuddin al-Dzahabi menukil ucapan Abu Hanifah dalam Manaqibnya halaman 34:
آخذ بكتاب الله، فما لم أجد فبسنة رسول الله والآثار الصحاح عنه التي فشت في أيدي الثقات عن الثقات، فإن لم أجد، فبقول أصحابه آخذ بقول من شئت، وأما إذا انتهى الأمر إلى إبراهيم، والشعبي، والحسن، وعطاء، فأجتهد كما اجتهدوا
Aku berpegang pada Al-Qur'an (Dalam menetapkan hukum). Namun
jika tidak ditemukan penjelasan didalamnya, maka pada sunnah Rasulullah dan
atsar sahih dari beliau yang dipegang oleh orang-orang terpercaya dari orang
terpercaya pula. Jika tidak ditemukan, maka pada ucapan para Sahabat. Aku ambil pendapat yang dikehendaki dan
meninggalkan pendapat yang tidak dikehendaki.
Namun jika sampai pada pendapat
Ibrahim, al-Sya'bi, al-Hasan, Ibnu Sirin, dan Sa'id bin al-Musayyab, maka
aku berijtihad sebagaimana mereka
berijtihad."
Beliau unggul dalam Qiyas, Istihsan dan meluaskan penggunaan keduanya, demikian pula murid-murid beliau. Melalui hal ini, permasalahan fikih menjadi luas dan banyak sekali. Mereka sering mengasumsikan gambaran masalah dan mencari jawaban untuk setiap gambaran tersebut.
Dengan metode ini mereka menyelisihi
tradisi ulama terdahulu. Sebab para ulama sebelumnya hanya memperhatikan hukum
dari peristiwa yang benar-benar telah terjadi. mereka tidak mengandaikan
peristiwa, tidak membuat perumusan masalah dan tidak membuat perincian turunan
yang belum ada. Bahkan, sebagian dari mereka enggan menjawab suatu masalah jika
tidak menemukan nash di dalamnya. Ringkasnya, fikih al-Ra'yi menjadi aktif di
tangan Abu Hanifah dan para murid serta ahli fikih Irak yang membersamai
beliau. Hal ini terjadi karena dipicu dengan munculnya peradaban baru.
Dari sisi ra’yu, pencarian 'illat
serta karakteristik yang sesuai pada suatu hukum, dimungkinkan untuk menyusun
keterkaitan yang menghubungkan permasalahan syariat satu sama lain. Juga mengembalikan
setiap kelompok masalah pada pokok yang menjadi dasar bangunan atau kaidah yang
mengaturnya. Dengan demikian, fikih berkembang menjadi ilmu yang memiliki kaidah
dan usul, setelah sebelumnya berupa masalah-masalah yang tersebar tanpa adanya
keterkaitan. Bahkan banyak ulama terdahulu yang awalnya hanya berpegang pada riwayat dari
Sunnah serta enggan berbicara dengan basis logika.
Abu Hanifah memiliki banyak murid yang agung.
Mereka mengambil ilmu dari beliau kemudian ikut berpartisipasi dalam penetapan
pendapat dan penggalian hukum (Istinbath). Melalui mereka cakupan permasalahan madzhab
beliau berkembang dan bertambah banyak. Pendapat- pendapat mereka menyatu dengan
pendapat al-Imam yang mana keseluruhan itu disebut dengan Madzhab Abu Hanifah.
Tak seorang pun dari mereka berpikir untuk memisahkan diri dari al-Imam
sebagaimana al-Syafi'i memisahkan diri dari gurunya yaitu al-Imam Malik bin Anas. Serta sebagaimana al-Imam Ahmad
memisahkan diri dari gurunya yakni al-Syafi'i.
Di antara murid Abu Hanifah yang
paling terkenal adalah : Abu Yusuf dan Muhammad bin al-Hasan al-Syaibani.
Adapun Abu Yusuf beliau adalah Ya'qub
bin Ibrahim Al-Anshari yang lahir pada tahun 113 H dan wafat pada tahun 193 H.
Awalnya beliau menyibukkan diri dengan periwayatan Hadis lalu berinteraksi
dengan Abu Hanifah, sehingga menjadi murid beliau yang terbesar dan penolong
terbaiknya. Beliau memiliki kitab Al-Kharaj tentang sistem kekayaan dan pajak yang
telah dicetak berulang kali. Beliau adalah penyebar Madzhab Abu Hanifah, dengan menjabat
sebagai Qadhi al-Qudhat atau Hakim Agung pada masa Khalifah Abbasiyah Harun al-Rasyid.
Sehingga beliau tidak mengangkat seorang hakim melainkan bermadzhab Hanafi.
Adapun Muhammad bin al-Hasan, beliau
lahir pada tahun 132 H dan wafat pada tahun 189 H. Beliau dibesarkan di Kufah
dan menghadiri majelis Abu Hanifah sejak masih kecil. Abu Hanifah melihat
tanda-tanda kecerdasan dan kepintaran pada dirinya. Namun Abu Hanifah wafat
saat beliau masih muda. Maka beliau menyelesaikan studinya di bawah bimbingan
Abu Yusuf. Beliau adalah orang yang mengumpulkan dan menulis masalah- masalah fikih Abu Hanifah serta mendiktenya dalam enam kitabnya yang terkenal, yaitu:
Kitab al-Ashl atau disebut juga Mabsuth
Muhammad, lalu al-Jami' al-Kabir, al-Jami' al-Shaghir, Kitab al-Siyar al-Kabir,
al-Siyar al-Shaghir, dan Kitab al-Ziyadat. Beliau juga memiliki kitab-kitab
lain yang tidak semasyhur kitab-kitab tersebut sehingga dinamakan al-Nawadir .
Abu Yusuf juga memiliki banyak kitab yang diriwayatkan darinya. Selain itu, terdapat
pula kumpulan jawaban fatwa untuk kasus-kasus yang tidak ditemukan jawabannya dari
para Sahabat dan dinamakan al-Waqi'at. Dengan demikian permasalahan fikih
Hanafi terdiri dari tiga jenis:
Pertama kutub Dhahir al-Riwayah yang merupakan rujukan utama dalam Madzhab
Hanafi. Kedua kutub al-Nawadir dan al-Waqi'at pada tingkatan ketiga, karena
merupakan hasil takhrij dari para ulama madzhab tersebut.
Madzhab Hanafi menyebar dengan ditopang
kekuasaan untuk wilayah timur melalui Abu Yusuf, seperti yang telah dijelaskan yakni
dalam pengangkatan Hakim di bawah kepemimpinan Daulah Abbasiyah. Madzhab ini
tersebar luas di negeri-negeri Maghrib hingga sekitar tahun 400 H, bahkan
mendominasi pulau Sisilia. Madzhab ini juga menyebar di Mesir pada awal masa
Dinasti Abbasiyah, meskipun kemudian bersaing dengan Madzhab Maliki dan Syafi’i.
untuk saat ini, madzhab hanafi tersebar luas di wilayah Asia Selatan dan asia
tengah.
Semoga Allah merahmati al-Imam al-A’dzam
Abu Hanifah dan para muridnya.
Wallahu A’lam
Semoga bermanfaat