Featured blog image
Akidah Warga Nahdliyin

Awal Kemunculan Firqah (Aliran) dalam Islam

Qosidul Chaq

Penulis

Masa Rasulullah merupakan periode terbaik dalam sejarah islam. Tidak terdapat perbedaan keyakinan maupun amaliyah yang menjadikan umat islam terkotak-kotak bahkan terpecah belah, mereka para sahabat berada dalam satu manhaj yang sama. Banyak ayat Al Quran yang menunjukkan apresiasi atas keutamaan para sahabat. Diantaranya dinukil oleh Sayyid Ahmad Zaini Dahlan dalam kitab beliau Kaifiyatu Al Munadzarah Ma’a Al Syi’ah hal 31:

(آيات أنزلها الله ثناء على الصحابة) وإذا أقر واعترف وقال: أؤمن بأن ما بين دفتي المصحف كلام الله تعالى المترل على سيدنا محمد - صلى الله عليه وسلم - المتعبد بتلواته المتحدى بأقصر سورة منه؛ يتلو عليه أو يكتب له في ورقة بعض الآيات التي أنزلها الله تعالى ثناء على الصحابة رضي الله عنهم كقوله تعالى في سورة الأنفال: {يا أيها النبي حسبك الله ومن اتبعك من المؤمنين} وقوله تعالى في سورة التوبة: {لكن الرسول والذين آمنوا معه جاهدوا بأموالهم وأنفسهم وأولئك لهم الخيرات وأولئك هم المفلحون * أعد الله لهم جنات تجري من تحتها الأنهار خالدين فيها ذلك الفوز العظيم} الخ

“(Ayat-ayat yang Allah turunkan untuk menyanjung para sahabat) ketika telah ditetapkan, diakui serta berkata: “Aku yakin bahwa apa yang ditulis antara dua lembar mushaf itu kalam Allah yang diturunkan pada Sayyidina Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. Yang membacanya dihitung ibadah, tertulis dalam lembaran kertas sebagian ayat yang diturunkan Allah untuk menyanjung para sahabat seperti dalam surat Al Anfal: {Hai Nabi, cukuplah Allah sebagai pelindungmu dan orang-orang mukmin yang mengikutimu} juga dalam surat Al Taubah: { Namun Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan dan mereka pula orang-orang yang beruntung. Allah telah menyediakan bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar } ” dan seterusnya.

Perbedaan pendapat pertama kali yang muncul adalah perihal kematian Rasulullah. Sebagian sahabat meyakini beliau wafat, sebagian lagi tidak. Peristiwa ini disebutkan oleh Abdul Qahir Al Baghdadi dalam Al farqu bain al firaq hal 12:

وأول خلاف وقع منهم اختلافهم في موت النبي عليه السلام فزعم قوم منهم أنه لم يمت وإنما أراد الله تعالى رفعه اليه كما رفع عيسى بن مريم اليه وزال هذا الخلاف وأقر الجميع بموته حين تلا عليهم أبو بكر الصديق قول الله لرسوله عليه السلام إنك ميت وإنهم ميتون وقال لهم من كان يعبد محمدا فان محمدا قد مات ومن كان يعبد رب محمد فانه حي لا يموت ثم اختلفوا بعد ذلك في موضع دفن النبي صلى الله عليه وسلم فأراد أهل مكة رده الى مكة لانها مولده ومبعثه وقبلته وموضع نسله وبها قبر جده إسماعيل عليه السلام وأراد أهل المدينة دفنه بها لأنها دار هجرته ودار أنصاره وقال آخرون بنقله الى أرض القدس ودفنه ببيت المقدس عند قبر جده إبراهيم الخليل عليه السلام وزال هذا الخلاف بأن روى لهم أبو بكر الصديق عن النبي صلى الله عليه وسلم إن الأنبياء يدفنون حيث يقبضون فدفنوه في حجرته بالمدينة.

“Perselisihan pertama yang terjadi ditengah para sahabat ialah mengenai wafatnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Sebagian sahabat berasumsi bahwa Rasulullah tidak wafat namun Allah berkehendak mengangkatnya sebagaimana Nabiyullah Isa bin Maryam. Masalah ini selesai dan semua sepakat atas wafatnya Rasulullah setelah Abu Bakar r.a membacakan ayat : Sungguh kau akan mati dan mereka akan mati juga. Abu Bakar berkata pada sahabat : “Siapa yang menyembah Muhammad maka ia telah wafat, siapa yang menyembah Tuhannya Muhammad maka Ia hidup tanpa mati”

Setelah itu mereka berselisih perihal lokasi pemakaman Nabi. Ahlu makkah menghendaki di sanalah pemakamannya sebab merupakan tempat kelahiran, tempat diutus maupun kiblatnya. Makkah juga tempat keturunan Nabi, di situ pula makam Nabi Isma’il a.s. Penduduk madinah menghendaki pemakaman tetap di Madinah sebagai tempat hijrah dan sahabat ansharnya. Sebagian yang lain mengusulkan dibawa ke Al Quds serta dimakamkan disana di samping makam Nabi Ibrahim a.s. perselisihan itu berakhir setelah Abu Bakar membacakan hadits: “Sesungguhnya para nabi dimakamkan di tempat mereka wafat” maka Rasulullah dimakamkan di dalam kamarnya di Madinah.”

Pasca wafatnya Rasululullah, Sahabat Abu Bakar diangkat sebagai khalifah dan beliau memerintah sekitar tahun 11 sampai 13 hijriyah. Setelah itu sahabat Umar bin khattab menjabat melalui istikhlaf yang dilakukan Abu Bakar sebelum beliau wafat. Sahabat umar menjabat sekitar 13 tahun yakni sampai tahun 23 H, seperti yang dijelaskan oleh Al Imam As Suyuthi dalam Tarikh Al Khulafa’. Pada periode kedua Khalifah ini umat islam masih aman dari fitnah perpecahan. Baru setelah sahabat Utsman bin Affan menjabat sebagai khalifah, fitnah tersebut mulai muncul hingga beliau terbunuh karenanya. Baru pada era sahabat Ali bin Abi thalib fitnah itu semakin membesar dan meluas hingga muncul kelompok khawarij yaitu orang-orang yang awalnya berada pada barisan sahabat Ali, kemudian membelot bahkan berbalik memerangi beliau. Disisi lain muncul kelompok syi’ah yaitu orang-orang yang mendukung sahabat Ali serta berlebihan dalam mendukung beliau sehingga meyakini bahwa kepemimpinan sahabat Ali merupakan nash baik secara jelas maupun tersirat. Syaikh Abul Fadhol As Senori, seorang ulama nusantara  dari Tuban menyebutkan dalam Al Kawakib Al Lamma’ah hal 7 :

وَخَرَجَتْ طَائِفَةٌ مِنْ طَاعَتِهِ، وَنَصَبُوْا لَهُ رَايَةَ الخِلاَفِ، وَنَاجَزُوْهُ بِالقِتَالِ، فَسُمِّيَ هَؤُلاَءِ بِالخَوَارِجِ. وَيَبْقَى هَذَا الإِسْمُ لِمَنْ سَلَكَ مَسْلَكَهُمْ وَرَأَى رَأْيَهُمْ. وَأَفْرَطَتْ طَائِفَةٌ أُخْرَى فِيْ حُبِّهِ، وَاشْتَدَّ تَعَصُّبُهُم لَهُ وَتَغَالَوْا فِي ذَلِك، فَسُمِّيَ هَؤُلاَءِ بِالشِّيْعَةِ وَيَبْقَى هَذَا الإِسْمُ لِمَنْ كَاَن عَلَى مَذْهَبِهِمْ إِلَى اليَوْمِ.  وَافْتَرَقَتْ كلٌّ مِنْ هَاتَيْنِ الطَّائِفَتَيْنِ إِلَى فِرَقٍ أُخْرَى.

“Dan muncul sekelompok  orang dari barisan Ali, mereka membelot  juga memeranginya. Golongan ini disebut dengan khawarij dan nama ini  tersemat bagi orang yang mengikuti jalan serta keyakinan mereka. Lalu terdapat kelompok lain yang berlebihan dalam mendukung sahabat Ali, mereka melewati batas serta melakukan sikap fanatisme. Golongan ini disebut dengan Syi’ah, istilah ini pula berlaku bagi orang yang mengikuti madzhab mereka hingga sekarang. Masing-masing dari dua kelompok tersebut kemudian terpecah lagi menjadi banyak golongan ”

Seperti khawarij yang terpecah menjadi Al Muhakkimah, Al Azariqah, Al Najdat, Al Ibadhiyah, maupun Al Ziyadiah. Golongan Syi’ah juga terpecah menjadi beberapa aliran, seperti Kisaniyah, Zaidiyah, Imamiyah, Al Ghaliyah juga Ismailiyah seperti yang dijelaskan oleh Al Syahrastani dalam kitab beliau Al Milal wa al nihal.

 

Wallahu A’lam

Semoga bermanfaat