Shalat 'Ied Tanpa Membaca Takbir Tujuh Kali
Pertanyaan :
Bagaimana hukum seseorang yang lupa membaca takbir tujuh kali atau lima kali dalam shalat 'Ied?
Jawaban :
Perlu diketahui bersama bahwa membaca takbir tujuh kali dengan mengangkat tangan setelah takbiratul ihram hukumnya sunnah, sehingga tidak berpengaruh pada keabsahan shalatnya. Sama hukumnya, membaca takbir lima kali pada rakaat kedua setelah takbir bangun dari sujud. Oleh sebab itu shalat ‘Ied tanpa membaca takbir tersebut tetap sah entah karena lupa atau memang disengaja.
Seperti diijelaskan dalam kitab Minhajul Qawwim hal 193:
و" منها أنه "يكبر" الإمام
والمنفرد "في الركعة الأولى" ولو من المقضية "قبل القراءة" أي
قراءة الفاتحة "سبعا يقينا" سوى تكبير الإحرام والركوع فإن شك أخذ
بالأقل "مع رفع اليدين" في كل تكبيرة حذو منكبيه كما مر في صفة الصلاة
ووقت السبع الفاصل "بين الاستفتاح والتعوذ" فإن فعلها بعد التعوذ حصل
أصل السنة لبقاء وقتها بخلاف ما إذا شرع في الفاتحة عمدا أو سهوا أو جهلا بمحله١
أو شرح إمامه قبل أن يأتي بالتكبير أو يتمه فإنه يفوت ولا يأتي به للتلبس بفرض،
ولو تداركه بعد الفاتحة سن له إعادتها أو بعد الركوع بأن ارتفع ليأتي به بطلت
صلاته إن علم وتعمد. "وفي الثانية خمسا" ويأتي فيها نظير ما تقرر في
الأولى، والمأموم يوافق إمامه إن كبر ثلاثا أو ستا فلا يزيد عليه ولا ينقص عنه
ندبا فيهما، ولو ترك إمامه التكبيرات لم يأت بها. "ولا يكبر المسبوق إلا ما
أدرك" من التكبيرات مع الإمام، فلو اقتدى به في الأولى مثلا ولم يبق من السبع
إلا واحدة مثلا كبرها معه ولا يزيد عليها ولو أدركه في أول الثانية كبر معه خمسا
وأتى في ثانيته بخمس أيضا أن في قضاء ذلك ترك سنة أخرى.
“Diantara kesunahan shalat ‘Ied ialah membaca takbir bagi
imam ataupun orang yang shalat munfarid pada rakaat pertama, sekalipun dari
shalat yang diqadha sebelum bacaan surat Al Fatihah sebanyak tujuh kali secara
pasti selain takbiratul ihram dan takbir rukuk. Namun jika mushalli ragu pada
jumlahnya maka diambillah yang paling sedikit dari bilangan takbir tersebut.
Beserta mengangkat kedua tangan pada setiap takbirnya selaras dengan kedua
pundak seperti yang telah dijelaskan dalam pembahasan tata cara shalat.
Adapun waktu membaca tujuh takbir itu adalah jeda antara doa
iftitah dan ta‘awudz (sebelum surat Al-Fatihah). Jika mushalli bertakbir
setelah ta‘awudz, maka ia tetap mendapat keutamaan sunah karena waktunya masih
ada. Berbeda apabila ia sudah membaca surat Al-Fatihah dengan sengaja, lupa,
atau karena tidak tahu tempat membaca takbirnya, atau imam sudah mulai membaca
surat sebelum makmum bertakbir atau merampungkannya, maka habislah waktu
kesunahan membaca takbir tersebut.
Seorang makmum tidak perlu bertakbir saat itu karena sudah
berlangsung kewajiban membaca surat Al Fatihah. Dan jika ia menyusul takbir setelah
surat Al Fatihah, maka dianjurkan mengulang bacaan Al Fatihahnya. Lalu apabila
ia bertakbir setelah rukuk yakni saat i’tidal, maka shalatnya batal asalkan ia
mengetahui hukum tersebut dan disengaja.
Juga pada rakaat kedua bertakbir lima kali, seseorang
bertakbir pada rakaat kedua sesuai dengan ketentuan rakaat pertama. Sedangkan
makmum menyesuaikan imamnya. Artinya jika seorang imam hanya bertakbir tiga
atau enam kali, maka makmum tidak boleh menambahkan atau mengurangi jumlah dari
takbirnya imam. Sehingga jika imam tidak membaca takbir, maka makmum juga tidak
perlu membacanya.”
Demikian penjelasan ringkas permasalahan takbir sunnah dalam
shalat ‘Ied yang memang terkadang seorang imam atau makmum lupa untuk
mengerjakannya. Namun sekali lagi meninggalkan takbir tersebut tidak
mempengaruhi keabsahan dari shalat ‘Iednya.
Wallahu A’lam
Semoga bermanfaat.