Merubah Mushalla Menjadi Masjid

Author

Qosidul Chaq

Penulis

Pertanyaan :

Bagaimana hukum merubah mushalla wakaf menjadi masjid?

Jawaban :


Hukum yang masyhur dikalangan masyarakat kita adalah tidak boleh mengubah fungsi, menjual ataupun menukar barang wakaf. Hal tersebut disebabkan mayoritas umat islam di negara kita mengikuti madzhab Syafi’I, yang memang menetapkan larangan tersebut. Banyak kitab yang menjelaskan demikian seperti Imam Nawawi dalam Ar Raudhah Juz 4 Hal 422 :

 

السادسة: لا يجوز تغيير الوقف عن هيئته، فلا تجعل الدار بستانا ولا حماما، ولا بالعكس، إلا إذا جعل الواقف إلى الناظر ما يرى فيه مصلحة للوقف. وفي فتاوى القفال: أنه يجوز أن يجعل حانوت القصارين للخبازين، فكأنه احتمل تغيير النوع دون الجنس

                                          

“Yang Keenam, Tidak boleh mengubah wakaf dari bentuknya. Oleh karena itu tidak diperbolehkan wakaf rumah dibuat kebun, tempat pemandian atau sebaliknya. Kecuali jika wakif menyerahkan pada Nadzir apa yang dipandang maslahat untuk kepentingan wakaf. Dalam fatwanya,  Imam Al Qaffal menjelaskan : Boleh menjadikan tanah wakaf tempat potong rambut menjadi toko roti. Barangkali maksudnya merubah fungsi bukan jenis.”

 

Juga dalam Al-fatwa al-fiqhiyyah juz 3 hal 153:

وحاصل كلام الأئمة في التغيير أنه لا يجوز تغيير الوقف عن هيئته فلا يجعل الدار بستانا ولا حماما ولا بالعكس إلا إذا جعل الواقف إلى الناظر ما يرى فيه مصلحة الوقف.

“Dan kesimpulan pendapat para imam tentang perubahan bentuk wakaf ialah tidak diperbolehkan. Maka tidak boleh rumah dijadikan kebun, pemandian atau sebaliknya. Terkecuali jika wakif menyerahkan pada nadzir apa yang paling maslahat  untuk wakafnya”

 

Penjelasan yang sama dalam fatwa Imam Taqiyuddin As Subki Juz 2 Hal 13 :

 

وإذا شرطها الواقف وحكم بخلافه فيكون قد خالف شرط الواقف، والفقهاء يقولون: شروط الواقف كنصوص الشارع، وأنا أقول من طريق الأدب شروط الواقف من نصوص الشارع لقوله - صلى الله عليه وسلم - (( المؤمنون عند شروطهم )) وإذا كانت مخالفة النص تقتضي نقض الحكم فمخالفة شرط الواقف تقتضي نقض الحكم

“Dan ketika wakif mensyaratkan wakaf namun yang direalisasikan sebaliknya maka yang terjadi adalah pelanggaran persyaratan. Ulama menjelaskan bahwa syarat wakif itu seperti syarat dari Syari’ (Allah dan Rasul-Nya). Dan Saya berkata dari sisi etika bahwa syarat wakif itu  bagian dari syarat Syari’ sesuai hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (Orang-orang mu’min sesuai apa yang mereka syaratkan). Sehingga ketika pelanggaran pada nash menunjukkan pertentangan hukum, maka pelanggaran syarat wakif mengakibatkan pertentangan hukum pula.”

 

Maka, tidak keliru jika yang diketahui khalayak umum bahwa merubah, menukar atau apapun sejenisnya dilarang pada barang wakaf. Namun perlu kita pahami bahwa masalah ini tidak hanya dibahas oleh madzhab Syafi’i saja, terdapat madzhab lain yang membahas dan bahkan menetapkan hukum berbeda. Salah satu contohnya madzhab Hanafi atau Hanbali  yang memperbolehkan istibdal atau penukaran barang wakaf jika terdapat maslahat yang lebih besar. Dalam kitab Istibdal  al-waqf hal 38 dijelaskan:

ولقوله إذا أراد منفعة الناس كما ذكرناه عنه في أول الكتاب واختلفت في بيع الأوقاف والاستبدال بها مع عدم تعطلها بل لمجرد رجحان البدل عليه أو لخوف من نقصه كما تقدم أو ضعف أهل الوقف عن القيام بمصالحه أو لظهور المصلحة كما ذكرناه من كلامه ، فالمحقق أن بيعه لأجل ذلك روايتين عنه احداهما المنع وحكمها مذكور في كتاب المغني وغيره من الكتب المتاخرة ، وإن لم يكن النص عن أحمد بالمنع موجوداً في هذه الكتب ، والثانية الجواز كما ذكرناه من مذهب أبي يوسف ورواية عن محمد بن الحسن وعن غيرهما أيضاً كما اشتمل عليه اول الكتاب.

“Juga sesuai pendapat Imam Ahmad ketika dikehendaki pemanfaatan dari orang-orang seperti yang kami jelaskan pada awal kitab. Kemudian terdapat perbedaan pendapat tentang penjualan barang wakaf, penukaran tanpa sebab hilangnya kemanfaatan barang tersebut. Namun murni karena penggantinya lebih baik atau kekhawatiran orang yang menguranginya seperti penjelasan di depan atau ketidak mampuan orang-orang memanfaatkan atau memunculkan kemanfaatan seperti yang telah kita sebutkan dari pendapat Imam Ahmad. Maka yang tahqiq (pasti) bahwa hukum penjualan karena faktor diatas terdapat dua riwayat dari Imam Ahmad bin Hanbal. Pertama melarangnya, dan kedua memperbolehkannya, seperti penjelasan dari pendapat Abu yusuf dan riwayat dari Muhammad bin Al Hasan (keduanya merupakan ulama besar dalam madzhab Hanafi) atau ulama lainnya seperti yang telah dicakupkan pada awal kitab. ”

 

Masih dalam kitab yang sama halaman 40 disebutkan:      

وقال فيه من فتاوى ابن نجيم  وسئل عن واقف شرط في وقفه عدم الاستبدال وصار الوقف بصفة مسوغة الاستبدال هل يصح استبداله أو لا؟ لعدم اشتراط الواقف ذلك وما الحكم ؟ فأجاب نعم يصح الاستبدال بإذن القاضي ، ولو منع الواقف.

“Al  Kazaruni menjelaskan dalam Ijabatu al- sailin dari fatwa Ibnu Najim bahwa ditanyakan pada beliau perihal wakif yang mensyaratkan tidak adanya penukaran namun barang wakaf tersebut menjadi pantas untuk ditukar (sebab rusak atau lainnya), apakah sah penukarannya atau tidak? Sebab tidak adanya persyaratan wakif untuk penukarannya serta bagaimana hukumnya? Beliau menjawab : “Iya, sah hukumnya penukaran tersebut dengan izin hakim sekalipun wakif melarangnya.”

Adapun mengenai perubahan status wakaf dari mushalla menjadi masjid tidak diperbolehkan dalam madzhab Syafi’i sebab merubah apa yang ditetapkan oleh wakif seperti penjelasan diatas. Orang yang mewakafkan bangunan sebagai mushalla tidak serta merta langsung menjadi masjid, sebab keduanya memiliki karakteristik yang berbeda. Namun menurut sebagian ulama Hanbali asal terdapat kemaslahatan yang lebih nyata maka perubahan itu diperbolehkan. Dan perlu kita pahami bahwa semua pendapat tersebut bisa diamalkan sebab berasal dari madzhab mu’tabar.

 

Dalam Al Inshaf juz 16 halaman 445 Al Imam Al Mardawi menyebutkan:

فوائد؛ الأولى، يتعين مصرف الوقف إلى الجهة المعينة له. على الصحيح من المذهب، ونقله الجماعة. قدمه في «الفروع» وغيره، وقطع به أكثرهم، وعليه الأصحاب. وقال الشيخ تقي الدين: يجوز تغيير شرط الواقف إلى ماهو أصلح منه، وإن اختلف ذلك باختلاف الأزمان، حتى لو وقف على الفقهاء، والصوفية، واحتاج الناس إلى الجهاد، صرف إلى الجند.

“Faidah.

Pertama, menjadi jelas bahwa penggunaan wakaf sesuai apa yang ditentukan, sesuai pendapat shahih dalam madzhab serta dinukil banyak ulama. Ibnu muflih mendahulukannya dalam kitab Al furu’ dan lainnya. Banyak ulama menetapkannya dan itu yang dipegangi para ashab. As Syaikh Taqiyuddin berkata: “Diperbolehkan mengubah syarat wakif pada sesuatu yang lebih maslahat, sekalipun menyelisihinya seiring berjalannya waktu. Hingga andai seseorang mewakafkan untuk fuqaha’ dan shufi namun dibutuhkan orang-orang untuk jihad, maka barang tersebut diberikan untuk para prajurit.”

 

 Hal yang sama juga dinukil dalam Mathalib Ulin Nuha karya As Syaikh Musthafa bin Sa’ad Al Hanbali juz 4 hal 299:

(وعند الشيخ) تقي الدين نصا: (يجوز تغيير شرط واقف لما هو أصلح منه، فلو وقف على فقهاء أو صوفية، واحتيج للجهاد صرف للجند) . انتهى.

“Dan terdapat sebuah nash dari As Syaikh Taqiyuddin: “Diperbolehkan mengubah syarat wakif pada sesuatu yang lebih maslahat, sekalipun menyelisihinya seiring berjalannya waktu. Hingga andai seseorang mewakafkan untuk fuqaha’ dan shufi namun dibutuhkan orang-orang untuk jihad, maka barang tersebut diberikan untuk para prajurit.”

 

Juga dalam Kasysyafu al-qina’ juz 4 halaman 294:

وجوز جمهور العلماء تغيير صورة الوقف للمصلحة كجعل الدور حوانيت والحاكورة المشهورة (المشهورة ويجوز نقض منارته) أي: المسجد (وجعلها في حائطه لتحصينه) من نحو كلاب نص عليه في رواية محمد بن الحكم.

“Dan mayoritas ulama’ memperbolehkan perubahan bentuk wakaf untuk kemaslahatan seperti menjadikan tempat tinggal sebagai toko dan pekarangan. Dan diperbolehkan memindahkan menara masjid lalu meletakkannya diatas dinding untuk menjaga dari semisal anjing, sesuai nash dari riwayat Muhammad bin Al Hakam.”

 

Wallahu A’lam

Semoga bermanfaat

Konsultasi / tanya jawab ke-Islam an bisa dilakukan dengan menghubungi penulis :

Qosidul Chaq

Ketua Lembaga Bahsul Masail MWC NU Kertek