Bersentuhan Antara Laki-laki Dan Perempuan Ketika Thawaf

Author

Qosidul Chaq

Penulis

Pertanyaan :

Pada pelaksanaan thawaf, tidak jarang laki-laki dan perempuan saling bersentuhan karena berbaurnya mereka di sekeliling ka’bah. Padahal bersentuhan antara laki-laki dan perempuan merupakan salah satu penyebab batalnya wudhu. Bagaimana cara mensikapi hal tersebut?

Jawaban :


Memang benar bahwa bersentuhan antara laki-laki dan perempuan termasuk perkara yang membatalkan wudhu menurut qaul mu’tamad madzhab Syafi’i, banyak kitab yang menjelaskan demikian. Dalam Mughnil muhtaj juz 1 hal 144 disebutkan:

(الثالث التقاء بشرتي الرجل والمرأة) لقوله تعالى: {أو لامستم النساء} [النساء: 43] [المائدة] أي لمستم كما قرئ به فعطف اللمس على المجيء من الغائط ورتب عليهما الأمر بالتيمم عند فقد الماء فدل على أنه حدث كالمجيء من الغائط، لا جامعتم؛ لأنه خلاف الظاهر؛ إذ اللمس لا يختص بالجماع. قال تعالى: {فلمسوه بأيديهم} [الأنعام: 7] وقال - صلى الله عليه وسلم -: «لعلك لمست»  ولا فرق في ذلك بين أن يكون بشهوة أو إكراه أو نسيان أو يكون الذكر ممسوحا أو خصيا أو عنينا، أو المرأة عجوزا شوهاء أو كافرة بتمجس أو غيره، أو حرة أو رقيقة، أو العضو زائدا أو أصليا، سليما أو أشل، أو أحدهما ميتا لكن لا ينتقض وضوء الميت أولا، واللمس الجس باليد، والمعنى فيه أنه مظنة ثوران الشهوة، ومثله في ذلك باقي صور الالتقاء فألحق به

“Penyebab hadats ketiga yaitu bersetuhan antara kulit laki-laki dan perempuan sesuai firman Allah Ta’ala (أو لامستم النساء) yakni لمستم (kalian menyentuh) sebagaimana lafadz itu dibaca. Kata menyentuh di’athafkan pada kata buang hajat serta diruntutkan perintah tayammum sebab tidak adanya air. Oleh sebab itu bersentuhan kulit termasuk penyebab hadats sebagaimana buang hajat. Bukan bermakna jima’, sebab makna itu menyelisihi dzahir lafadz. Karena kata menyentuh tidak dikhususkan untuk jimak, firman Allah (فلمسوه بأيديهم) sabda Rasulullah (لعلك لمست) dan seterusnya. ”

Juga terdapat penjelasan secara terperinci mengenai batalnya wudhu sebab bersentuhan dalam hasyiyah Bujairami ala Al-Khatib juz 1 hal 310 :

اعلم أن اللمس ناقض بشروط خمسة: أحدها: أن يكون بين مختلفين ذكورة وأنوثة. ثانيها: أن يكون بالبشرة دون الشعر والسن والظفر. ثالثها: أن يكون بدون حائل. رابعها: أن يبلغ كل منهما حدا يشتهى فيه. خامسها: عدم المحرمية” انتهى

 

“Ketahuilah bahwa bersentuhan termasuk pembatal wudhu dengan lima syarat:

1.       Antar lawan jenis, laki-laki dan perempuan

2.       Bersentuhan kulit, bukan rambut, gigi, atau kuku.

3.       Tanpa penghalang

4.       Keduanya telah memiliki kecenderungan syahwat

5.       Bukan mahram.”

Namun dari itu semua terdapat beberapa pendapat ulama Syafi’iyah yang bisa dijadikan solusi untuk masalah di atas, seperti Imam Ibnu Suraij yang menyebutkan bahwa hanya bersentuhan disertai syahwat yang membatalkan wudhu, sehingga jika terhindar dari syahwat maka wudhunya tidak batal. Yang kedua pendapat dari Imam Al Faurani dan Imam Al Haramain yang menyebutkan bahwa bersentuhan tidak membatalkan wudhu kecuali jika disengaja. Hal ini dijelaskan dalam Hasyiyah As Syarbini pada kitab Al Ghurarul Bahiyah juz 1 hal 137-138 :

(قوله: وسواء إلخ) ولنا وجه أنه لا ينتقض وضوء الملموس، ووجه أن لمس العضو الأشل أو الزائد لا ينقض، ووجه لابن سريج أنه يعتبر الشهوة في الانتقاض قال الحناطي وحكي هذا عن نص الشافعي، ووجه حكاه الفوراني وإمام الحرمين وآخرون أن اللمس لا ينقض إلا إذا وقع قصدا.

“Ucapan mushannif dan sama –seterusnya- Kami memiliki sebuah pendapat bahwa wudhunya orang yang tersentuh tidak batal, lalu pendapat lain bahwa menyentuh anggota tubuh yang lumpuh atau tambahan tidak membatalkan. Kemudian ada lagi pendapat ibnu Suraij bahwa adanya syahwat yang menjadi indikator pembatalnya. Al-Hanathi berkata dan beliau meriwayatkan dari nash Imam Syafi’i. terdapat pula sebuah pendapat yang diriwayatkan oleh Al-Faurani, Imam haramain dan lainnya bahwa bersentuhan tidak membatalkan wudhu terkecuali jika memang disengaja ”

Wallahu A’lam.

Semoga bermanfaat.

Konsultasi / tanya jawab ke-Islam an bisa dilakukan dengan menghubungi penulis :

Qosidul Chaq

Ketua Lembaga Bahsul Masail MWC NU Kertek