Featured blog image
Kegiatan Warga Nahdliyin

Menyongsong Abad Kedua, MWC NU Kertek Perkuat Transformasi Teknologi dan Pendidikan Aswaja

Ahmad Haryanto

Penulis

​WONOSOBO – Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Kertek kembali menggelar kegiatan Tarawih dan Silaturahim (Tarkhim) putaran keempat di Masjid Nurul Huda, Minggu (1/3/2026). Momentum ini menjadi ajang konsolidasi struktural sekaligus penegasan visi NU dalam menghadapi tantangan abad kedua.

​Kegiatan rutin ini dihadiri langsung oleh jajaran Rois Syuriah, Tanfidziah, serta seluruh Badan Otonom (Banom) NU se-Kecamatan Kertek. Tak hanya penguatan internal, acara ini juga menjadi jembatan silaturahim antara pengurus struktural dengan warga dan tokoh masyarakat setempat.

​Adaptasi Teknologi dan Kemandirian Umat

​Dalam sambutannya, Bapak KH. Syarif Hidayat menekankan bahwa NU kini telah resmi melangkah di abad kedua. Jika abad pertama diwarnai dengan perjuangan fisik dan penguatan basis melalui pengajian, maka abad kedua menuntut langkah yang lebih progresif.

​"Tantangan kita jauh lebih berat, terutama di sektor teknologi. Kita harus mampu memanfaatkan teknologi sebagai sarana dakwah yang efektif. Selain itu, NU harus hadir membawa solusi nyata dalam mengangkat derajat ekonomi dan kesehatan warga," ujar Syarif.

​Pendidikan Berbasis Aswaja sebagai Benteng Generasi

​Senada dengan hal tersebut, KH. Ahmad Suyuti dalam tausiyahnya mengingatkan bahwa sebagai golongan mayoritas, NU memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga kualitas generasi muda di tengah perubahan zaman.

​Beliau menekankan pentingnya menyekolahkan anak-anak di lembaga pendidikan formal milik Nahdlatul Ulama. Di wilayah Kertek sendiri, telah tersedia berbagai pilihan unggulan seperti: MI Maarif Budi Luhur, MI Maarif Karang Luhur, MI Maarif Suren Gede, MTs Maarif Kertek, Pondok-pondok pesantren dan lain sebagainya .

​"Menyekolahkan anak di lembaga NU adalah ikhtiar agar mereka terbekali akidah Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) yang berlandaskan Al-Qur'an, Sunnah Rasulullah, Ijma, dan Qiyas," tutur KH. Ahmad Suyuti.

​Ia juga menambahkan bahwa saat ini banyak Pondok Pesantren di bawah naungan NU yang telah mengintegrasikan kurikulum pesantren dengan kurikulum kementerian, sehingga santri tidak hanya mumpuni dalam ilmu agama tetapi juga unggul secara akademik formal.

​Dakwah Humanis di Kecamatan Kertek

​Lebih jauh lagi, KH. Ahmad Suyuti  menjelaskan bahwa dinamika dakwah di Kertek dilakukan dengan pendekatan yang sangat hati-hati dan manusiawi. Perjuangan dakwah di wilayah ini mengedepankan sisi humanis agar ajaran Islam rahmatan lil 'alamin dapat diterima dengan baik oleh seluruh lapisan masyarakat.

​"Perjuangan kita meniscayakan kesabaran, sedikit demi sedikit dengan pendekatan yang menyentuh hati. Inilah kunci mengapa NU terus tumbuh dan diterima dengan hangat di tengah masyarakat Kertek," ungkap perwakilan pengurus MWC NU tersebut.

​Acara yang berlangsung khidmat ini ditutup dengan doa bersama untuk keberkahan umat dan kemajuan organisasi dalam mengarungi abad kedua Nahdlatul Ulama.